Media dan Ruang Publik
MEDIA DAN RUANG PUBLIK
Disusun Oleh:
Dicky Satria
Ramadhan (B95219095)
A. Pendahuluan
Kondisi masyarakat Indonesia berada dalam
lingkungan yang heterogen, plural dan terbuka dengan berbagai latar belakang
yang berbeda. Demokrasi adalah solusi yang paling sering digunakan untuk
mendapatkan sebuah kesepakatan bersama dalam sebuah sistem. Setiap individu
diberi kebebasan untuk menyuarakan pendapat di ruang publik. Dalam ruang
publik, masyarakat digambarkan aktif dan saling berkomunikasi. Media diharapkan
menjadi penghubung antar individu agar dapat saling bertukar informasi sehingga
dapat diputuskan kebijakan mana yang akan digunakan. Media akan membedakan tema
atau topik yang dapat masuk ke dalam sistem dan mana yang tidak. Terkadang
pilihan-pilihan tersebut datang dari ide dan gagasan masyarakat yang berada di
ruang publik.
Di sisi lain, peran media massa adalah
untuk memberikan informasi kepada masyarakat modern. Setiap saat, setiap waktu
terjadi pertukaran informasi antara publik dan media. Apalagi saat ini publik
semakin mudah untuk mengakses informasi apapun dari media dengan bantuan internet.
Mereka tidak perlu menunggu berita yang sedang terjadi esok hari di surat
kabar, dengan internet kejadian yang baru terjadi beberapa jam yang lalu dapat
langsung dilihat di media online. Ruang publik menjadi semakin luas dengan
individu-individu yang beragam dimana mereka dapat saling berinteraksi dalam
memberikan ide atau gagasan. Media itu terbuka, bebas dengan berbagai perbedaan
yang menjadi sebuah institusi penting dalam masyarakat.
Media yang terorganisasi dengan baik
memiliki sifat terbuka sekaligus tertutup. Media terbuka dengan sistem-sistem
lain yang berada di sekelilingnya namun dia juga mempunyai batasan untuk
menseleksi bagian mana yang akan berintegrasi. Segala sesuatu atau informasi
tentang masyarakat dapat diketahui melalui media massa. Itulah mengapa media
massa diharapkan dapat menjadi sebuah medium untuk menyalurkan informasi yang
benar kepada masyarakat. Di tengah hiruk pikuk sistem lain yang berada di
sekitar media, dia harus menunjukkan posisinya sebagai penyalur informasi
kepada masyarakat sehingga media akan mencari tema yang menarik perhatian.
Informasi yang diakses kemudian akan berputar di dalam ruang publik dengan
pendapat masing-masing individu sebagai penerima pesan. Tentu saja penafsiran
satu orang dengan orang lainnya akan berbeda. Ruang publik itulah yang akan
menjadi sebuah medium bagi mereka sebagai umpan balik dari informasi yang
didapat. Namun pertanyaan selanjutnya muncul, apa dan bagaimana ruang publik
tersebut dapat terbentuk. Siapa pula individu yang berperan sebagai publik yang
menerima informasi dari media. Dimana saja ruang publik dapat diakses oleh
masyarakat. Pemikiran dari Jurgen Habermas mungkin dapat membantu menjelaskan
tentang dasar dari ruang publik yang akan dikaitkan dengan media massa dan
masyarakat Indonesia.
B. Media
1. Pengertian
Media
Media
adalah bentuk jamak dari medium yang berarti tengah atau perantara. Massa
berasal dari bahasa Inggris yaitu mass yang berarti kelompok atau kumpulan.
Dengan demikian, pengertian media massa adalah perantara atau alat-alat yang
digunakan oleh massa dalam hubungannya satu sama lain. Media massa adalah
sarana komunikasi massa dimana proses penyampaian pesan, gagasan, atau
informasi kepada orang banyak (publik) secara serentak. Sebuah media bisa
disebut media massa jika memiliki karakteristik tertentu. Karakteristik media
massa menurut (Canggara, 2010:126-127) antara lain:
1.
Bersifat
melembaga, artinya pihak yang mengelola media terdiri dari banyak orang, yakni
mulai dari pengumpulan,pengelolaan sampai pada penyajian informasi.
2.
Bersifat
satu arah, artinya komunikasi yang dilakukan kurang memungkinkan terjadinya
dialog antara pengirim dan penerima. Kalau pun terjadi reaksi atau umpan balik,
biasanya memerlukan waktu dan tertunda.
3.
Meluas
dan serempak, artinya dapat mengatasi rintangan waktu dan jarak, karena ia
memiliki kecepatan. Bergerak secara luas dan simultan, dimana informasi yang
disampaikan diterima oleh banyak orang dalam waktu yang sama.
4.
Memakai
peralatan teknis atau mekanis, seperti radio, televisi, surat kabar, dan
semacamnya.
5.
Bersifat
terbuka, artinya pesannya dapat diterima oleh siapa saja dan dimana saja tanpa
mengenal batas usia, jenis kelamin, dan suku bangsa.
Menurut
Effendy (2003:65), media massa digunakan dalam komunikasi apabila komunikasi
berjumlah banyak dan bertempat tinggal jauh. Media massa yang banyak digunakan
dalam kehidupan sehari-hari umumnya adalah surat kabar, radio, televisi, dan
film bioskop, yang beroperasi dalam bidang informasi, edukasi dan rekreasi,
atau dalam istilah lain penerangan, pendidikan, dan hiburan. Dengan demikian
media massa adalah suatu alat untuk melakukan atau menyebarkan informasi kepada
komunikan yang luas, berjumlah banyak dan bersifat heterogen. Media massa
adalah alat yang sangat efektif dalam melakukan komunikasi massa karena dapat
mengubah sikap, pendapat dan perilaku komunikannya. Keuntungan komunikasi
dengan menggunakan media massa adalah bahwa media massa menimbulkan
keserempakan yaitu suatu pesan dapat diterima oleh komunikan yang berjumlah
relatif banyak.
2.
Jenis Jenis Media
Menurut
(Canggara, 2010:74), jenis-jenis media massa dibedakan menjadi tiga jenis yakni
antara lain :
a.
Media
cetak
Adalah media massa pertama kali
muncul di dunia pada tahun 1920-an. Di kala itu pada awalnya media massa
digunakan pemerintah untuk mendoktrin masyarakat, sehingga membawa masyrakat
pembaca kepada suatu tujuan tertentu. Seperti teori jarum suntik pada teori
komunikasi massa. 12 Namun sekarang sudah sangat kebebasan pers, seperti timbal
balik dari audiens.
b.
Media
elektronik
Setelah media cetak munculah media
elektronik pertama yaitu radio. Sebagai media audio yang menyampaikan pesan
lewat suara. Kecepatan dan ketepatan waktu dalam penyampain pesan radio tentu
lebih cepat dengan menggunakan siaran langsung. Pada waktu penyebaran informasi
Proklamasi Kemerdekaan media massa radio berperan utama dalam penyebaran
berita. Setelah itu muncul televisi yang lebih canggih bisa menayangkan gambar,
yaitu sebagai media massa audio visual.
c.
Media
internet
Baru populer di abad 21, google
lahir pada tahun 1997. Media internet bisa melebihi kemampuan media cetak dan
elektronik. Apa yang ada pada kedua media tersebut bisa masuk dalam jaringan
internet melalui website. Banyak kelebihan media massa internet dibanding media
yang lain. Namun akses internet yang masih terbilang bebas bisa berbahaya bagi
pengguna yang belum mengerti. Misalnya penipuan, pornografi, dsb. Media
internet tidak harus dikelola sebuah perusahaan layaknya media cetak dan
elektronik, melainkan bisa juga dilakukan oleh individu.
3.
Fungsi Media
Selain karakteristik, media massa juga memiliki fungsinya sendiri
dan terdapat berbagai peran dalam pelaksaan fungsi tersebut. Berikut adalah
fungsi media massa sesuai dengan yang dijelaskan oleh Mc.Quail (1994):
a.
Fungsi
informasi, dimana media massa berperan dalam menyediakan dan menyampaikan
informasi mengenai berbagai peristiwa, kejadian, dan realita yang terjadi di
dalam masyarakat.
b.
Fungsi
kesinambungan, dimana media massa berperan penting dalam mengakui,
mengekspresikan, dan mendukung adanya budaya dominan dan budaya khusus. Media
masssa juga berperan dalam terbentuknya perkembangan budaya baru yang ada di
masyarakat, sekaligus tetap melestarikan nilai yang sudah ada.
c.
Fungsi
korelasi, dimana media massa menafsirkan dan menjelaskan peristiwa yang terjadi
berikut kemungkinan hubungan dengan hal atau peristiwa lain yang terkait.
d.
Fungsi
mobilisasi, dimana media massa berperan dalam menyebarkan informasi dan
mengkampanyekan berbagai hal dalam bidang ekonomi, politik, negara, agama, dan
lain sebagainya.
e.
Fungsi
hiburan, dimana media massa memberikan hiburan kepada audience sebagai sarana
relaksasi dan pengalihan perhatian dari ketegangan sosial yang terjadi di
masyarakat.
C.
Ruang
Publik
1. Pengertian
Ruang Publik
Ruang publik (public sphere) adalah sebuah
istilah yang dikembangkan oleh Sosiolog dan filsuf Jerman, Jürgen Habermas,
yang merupakan penerus teori kritis Mazhab Frankfurt. Dalam pandangan Habermas,
istilah ruang publik mengacu pada “ruang antara” negara dan pasar di mana
segala sesuatu yang berkaitan dengan kepentingan umum dan opini publik dibentuk
dengan cara persuasi, konflik, dan didalamnya terjadi perebutan makna
(contested meaning) untuk memenangkan opini publik.
Melalui konsep ruang publik, Jurgen
Habermas berupaya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang apa yang
dimaksud dengan publik; bagaimanakah bentuk kekuasaan yang efektif dalam
konteks demokrasi representatif? serta bagaimana mempertahankan sebuah
kekuasaan politik dalam demokrasi. Melalui bukunya “The Structural
Transformation of the Public Sphere” (1962) ia berupaya mencari jawaban-jawaban
atas pertanyaan tersebut serta mengeksplorasi lebih jauh mengenai status opini
publik dalam praktek pemerintahan perwakilan (representative) di Eropa Barat.
Dalam buku yang awalnya dipersiapkan untuk
Habilitationschrift tersebut Habermas mendefinisikan ruang publik sebagai
sebuah komunitas virtual atau imajiner, dalam bentuk yang ideal, ruang publik
“terdiri dari orang-orang “private” yang berkumpul bersama sebagai masyarakat
dan mengartikulasikan kebutuhan masyarakat dengan negara”. Melalui bukunya ini
pula Habermas berupaya untuk menanggapi secara konstruktif terhadap konsepsi
teori kritis dari para pendahulunya, khususnya Horkheimer dan Adorno. Habermas
mencoba untuk menyelesaikan masalah teori kritis generasi pertama Frankfurt
School yang mengalami kebuntuan, sambil tetap setia pada semangat aslinya dan
mempertahankan beberapa aspek diagnosa penyakit sosial.
D.
Peran
Media Dalam Ruang Publik
Menurut Habermas, ruang publik membutuhkan sebuah forum yang
memungkinkan bertemunya banyak orang dan menjadi tempat berbagi pengalaman
sosial yang dapat diekspresikan dan dibagikan. Segala pendapat dan argumen
mengenai didiskusikan secara rasional. Dalam ruang publik seharusnya ada
pandangan yang jernih dan jujur sebagi alternatif setiap individu. Kepentingan
politik menjadi salah satu faktor untuk dapat mewujudkan diskusi yang rasional.
Terbentuknya ruang publik berguna untuk mengawasi kebijakan pemerintah secara
kritis dan sistematis (LP3ES, 2006:173). Publik dapat mengontrol kebijakan
tersebut melalui media massa. Sebenarnya tanpa media pun masyarakat dapat
saling berkomunikasi melalui tatap muka, namun yang menjadi persoalan adalah apakah
seseorang yang berada di Aceh dapat langsung bertemu dengan orang yang ada di
Jakarta. Waktu menjadi faktor yang penting bagi seseorang dalam mendapatkan
sebuah informasi sehingga media sangat berperan dalam kehidupan manusia.
Salah satu alat yang mereproduksi pandangan dominan dalam budaya
adalah media massa. Kehidupan masyarakat modern tidak dapat dilepaskan dari
keberadaan media massa. Ritme hidup manusia modern berjalinkelindan dengan
media massa, mulai dari Koran pagi sampai film tengah malam (Narendra,
2006:160). Media mempunyai tugas untuk memberikan kesadaran kepada masyarakat
akan haknya dalam interaksi sosial. Media mengkonstruksi identitas nasional.
Media bermain peran dalam batas kultural di antara kita dan mereka (Lunenborg
and Fursich, 2011:959).
Publik adalah representasi dari media massa. Apa yang terjadi di
ruang publik adalah hasil konstruksi dari media. Ketika media menyebarkan
informasi yang stabil maka, publik juga akan ikut stabil, begitu juga
sebaliknya ketika media memberikan berita berubah-ubah, publik pun akan
mengikutinya. Dilihat lebih seksama, media seolah-olah memberikan pengetahuan
kepada khalayak dengan berbagai informasi setiap hari dan disaat yang sama
mereka mengabaikan efek dari apa yang telah diberikan.
Fenomena yang belum lama terjadi misalnya tentang kelangkaan BBM.
Media sebagai tempat informasi yang dipercaya oleh masyarakat kemudian
menyiarkan berita yang tidak utuh tentang kelangkaan tersebut sehingga membuat
masyarakat panik dan chaos di setiap daerah. Antrian untuk membeli bahan bakar
terjadi dimana-mana hingga menganggu kestabilan hidup. Masyarakat tidak lagi
dapat berpikir rasional karena mereka takut kebutuhan sehari-hari tidak
terpenuhi tanpa BBM. Padahal pemerintah sendiri masih menjamin ketersediaan BBM
cukup hingga akhir tahun. Kekuatan media untuk menggerakkan masyarakat sangat
mudah untuk dirasakan. Disanalah ruang publik berperan karena semua orang bebas
untuk mengakses dan ketika ada aktor yang membuat sebuah tindakan, yang lain
akan mengikuti.
KESIMPULAN
Media massa merupakan
sebagai ruang publik yang
“pragmatis” – terutama bagi
pemilik media. Hak ekslusif diberikan masyarakat dan etika pengabdian dari
media massa untuk menjaga
“perubahan sosial” bagi
masyarakat bukan dari institusi
media massa sendiri, dan
hak eksklusifitas penguasaan
informasi ini yang tidak pernah dipahami
masyarakat. Selain itu, kedewasaan masyarakat
sebagai komunitas informasi belum
sebanding dengan kecepatan pergerakan
media massa. Dan yang
terakhir tergantung bagaimana
cara para pemilik modal
menggunakan kekuasaan
ekonomi mereka dalam
sebuah sistem pasar komersial
untuk menjamin aliran informasi
publik yang sejalan dengan misi dan tujuan
mereka. Sehingga yang terjadi
adalah adanya berubahnya
fungsi media sebagai dominasi kelas.
DAFTAR PUSTAKA
Anggraeni, Mila. 2018. Dwi Fungsi Media Massa. Jurnal Pendidikan Luar Sekolah. Vol 6, No.1.
Bungin, Burhan, 2006. Sosiologi komunikasi.
Kencana pranada media group. Jakarta.
Cangara, Hafied, 2002 Pengantar Ilmu Kounikasi. PT Rajagrafindo Persada. Jakarta.
Habermas, Jurgen. The Theory of Communicative
Action: Reason and the Rationalization of Society. Beacon Press. 1984
Kusuma, Habibi Dedi. 2018. Dwi Fungsi Media Massa. Jurnal Ilmu Komunikasi. Vol 7, No.2.
LP3ES, Tim Redaksi. Jurnalisme Liputan 6:
Antara Peristiwa dan Ruang Publik. Jakarta: Pustaka LP3ES Indonesia. 2006
Nurudin 2004, Komunikasi Massa. Pustaka Pelajar. Bandung.
McKee, Alan, An Introduction to the Public
Sphere, UK: Cambrigde University Pres. 2005
Newman, Janet. Remaking Governance: People, Politics and the Public Sphere. UK: The Policy Press University of Bristol. 2005
Wahyuni, Hermin, I. Handout Komunikasi dalam
Perspektif Sistem dan Aktor. Program S2 Komunikasi Universitas Gadjah Mada.
2011
Komentar
Posting Komentar